Cr foto : tripadvisor


Sebuah catatan perjalanan yang absurd. 

Jadi ceritanya, setelah puas berkeliling taman wisata mangroove dengan perahu, aku dan teman-temanku berniat untuk mencari lentera merah. Kubilang 'mencari' karena akupun belum pernah sekalipun pergi ke sana, meskipun aku tahu bagaimana rupanya lentera merah (dan hijau) saat akan kapal berangkat ke Enggano dari Pulau Baai.

Mangroove squad!



Bapak nelayan yang mengantarkan kami berkeliling mangroove bilang, letaknya sebelum jembatan pertama dan masuknya lewat gang dekat polsek. Bertekad untuk menemukannya sendiri, kami pun memulai perjalanan panjang, lurus terus dari Pulau Baai ke Samudera Ujung. Beberapa kali kami melirik gang setelah jembatan, tapi kok sepertinya tidak kelihatan seperti jalan yang benar.

Dari jalan beraspal, kami mulai berjalan di jalan di jalan berbatu. Aku makin sulit mengendarai motor, bukan hanya karena membonceng Dilla di jalanan berbatu tapi juga karena matahari makin terik. Kulitku terasa terbakar dan aku mulai merasa haus. Perjalanan makin menyebalkan karena hanya terlihat truk dan gunungan batu bara.

Jalanan sepi dan kami makin jauh. Firasatku mulai tak enak. Bagaimana kalau aku dan Dilla diserang orang yang tidak dikenal? Sementara Miqdad dan Citra terlihat asyik mengobrol di motor satunya lagi didepan. Aku tetap positif thinking dan membayangkan kalau kami sampai dan bisa foto-foto di spot keren tersebut.

Makin lama kami melihat ada satu tower merah dikejauhan, tapi kok jalannya jadi buntu.. Nggak kelihatan buat turis..

Dan ternyata itu adalah tower punyanya Semen Padang... 


karena kebodohan kami, kami nyasar sampai sejauh itu.. (garis merah)


Diantara kami berempat handphonenya susah sinyal, jadi memang buta arah. Sambil menertawakan nasib sial karena berjalan lurus terus tanpa memikirkan petunjuk bapak nelayan, kami akhirnya putar balik. Dalam hati masing-masing sepertinya agak menyesal melewatkan penawaran bapak nelayan, yang bilang bisa mengantar sampai Lentera Merah dari Kampung Sejahtera tadi, tapi bayarnya nambah sekitar 250ribu.

Tapi tak apalah namanya juga petualangan. Kami kemudian putar balik sampai ke jembatan paling pertama yang kami lewati setelah dari taman mangroove. Miqdad bertanya lagi pada orang-orang sementara aku dan Dila mengambil beberapa foto pelabuhan dari kejauhan.

Bukan jembatan yang ini :(


"Guys, kata bapaknya tadi, kita emang salah arah. Jembatan yang dimaksud itu yang kearah sana," kata Miqdad menunjuk ke jalan menuju pusat kota. "Terus kata bapaknya jalan ke sana itu yang dekat lokalisasi..."

"Lokalisasi.. kayak red light district?" tanyaku. Miqdad mengangguk sambil bilang, "bapaknya tadi pas ambo tanya soal lentera merah jawabnya sambil senyum-senyum nakal loh."

Kepalaku mendadak pening, ini nyari lentera merah atau daerah lampu merah?

FYI: Red light district itu sebutan buat daerah yang jadi pusat bisnis pelacuran dan bisnis yang berorientasi seks- menurut wikipedia. Kalau diluar negeri sebutannya begitu, kalau di Indonesia biasanya lokalisasi.

Selama ini aku nggak pernah tahu lokasi lokalisasi, dan nggak berniat buat tau. Tapi aku nggak habis pikir kalau ternyata selama ini teman-teman yang foto di lentera merah, kesananya lewat lokalisasi...

"Well, lanjut atau nggak nih?" tanya Dilla. Miqdad, aku dan Citra masih penasaran XD, jadinya kami lanjut berangkat hahahahaha. Akhirnya kami menemukan jembatan yang tepat, dan gang yang tepat.

Tapi jalannya ternyata buruk sekali. Meskipun begitu, selain kami ada juga beberapa motor dan mobil yang lalu lalang. Aku tidak ingin berasumsi apa-apa, tapi di otakku sudah otomatis memberi label ini dan itu. Saat bertukar pandang dengan orang yang mengarah keluar, akupun tersadar kalau aku juga bisa kena label yang tidak baik. Duhhh.. ini petualangan yang nggak aku banget haha.

Untungnya waktu itu sekitar jam 1 tepat, dan matahari bersinar dengan amat terang. Kami akhirnya sampai di ujung jalan dan melihat bentuk lokalisasi yang selama ini kudengar namanya di koran lokal. Sesuai petunjuk bapak-bapak yang ditanyai Miqdad, kami hanya tinggal belok kiri. Tapi..

Aku nggak bisa mengendalikan motor dijalan berpasir. Setelah hampir jatuh, aku dan Dilla akhirnya memutuskan berhenti sejenak, sementara Citra dan Miqdad lanjut jalan untuk melihat apakah jalan yang kami tuju itu benar.

Cari sinyal


Beberapa menit ditinggal rombongan, kami dilewati beberapa motor lain. Kebanyakan laki-laki yang berboncengan dengan membawa pancingan. Beberapa menatap aku dan Dilla dengan pandangan yang kurang menyenangkan. Suasana jadi makin horror saat seorang laki-laki memberhentikan motornya didekatku dan Dilla, dan duduk disana. Ia tidak mendekat, tapi aku dan Dilla sudah merasa was-was. Miqdad.. Citra.. cepat balik dong!

Tak lama kemudian Citra dan Miqdad kembali. Mereka membawa kabar mengejutkan yang sebenarnya lazim.. karena memang kami yang pergi ketempat yang tidak seharusnya, haha. Disepanjang jalan ternyata ada banyak..

pakaian dalam berserakan..

Ada yang lebih jelas lagi rupa-rupa bajunya tapi ga lulus sensor nanti blognya


..

..

*masukkan emoji kaget, malu-malu dan bingung sekaligus*

Kami berempat hanya bisa tertawa, menertawakan diri sendiri karena mau-maunya bersusah payah hanya untuk mencari tempat foto instagramable sampai masuk ke daerah yang dilarang oleh orang tua dan guru-guru kami. Well memang cuma pantai saja, tapi pantai sepi yang dipakai banyak manusia penuh nafsu.

*ngetik sambil ketawa, 4 alumni SDIT IQRA pas reuni mainnya kemana ya Allah XD*

Kali ini, saat ditanya mau lanjut atau nggak, aku menjawab dengan tegas, tidak. Sudah lapar sekali, dan aku nggak sanggup lanjut bawa motor di jalan berpasir. Juga pada saat itu sayup-sayup terdengar suara adzan, sepertinya dari masjid yang ada didaerah lokalisasi.

"Sholat disitu yuk," kata Miqdad.

"Tidaaaaak!!!"

Kita mainnya kejauhan geng.. XD



*

Begitulah pengalamanku mencari lentera merah. Belum ketemu. Mungkin kalau ada yang mengajakku lagi, aku akan mengiyakan asal perginya bawa mobil. Pergi ke lentera merah dengan memakai motor amat berbahaya, apalagi kalau rombongannya cewek-cewek. Sangat tidak disarankan berangkat kesini sendirian. Pokoknya anak baik-baik mainnya di pantai yang lain aja lah ya, jangan kesini!

Oh iya, waktu itu kami memang tidak liat maps saat mencari lentera merah, beda dengan sebelumnya, aku sudah tahu secara garis besar harus kemana karena sudah liat maps saat di sport center. Yang ingin berpetualang, saranku tolong liat maps dulu saat masih ada sinyal, karena itu bakal membantu banget. 

arah ke lentera merah yang benar. Jalannya memang setelah jembatan pertama, tapi bukan jembatan setelah taman mangroove XD

Mumpung lagi disini, baca review film yang lagi tayang dibioskop yuk, A Private War..

7 Comments

  1. wah bunda juga nih orang Bengkulu belum pernah ke sana sepertinya usia bunda sudah tidak memungkinkan untuk menjelah tapi bunda yakin besok-besok bunda bisa kesana

    ReplyDelete
  2. Yaaa...pantai bagus-bagus ada sampahnya, bikin sedih. Padahal kan tempat sampah ada, lagian ngapain buang baju ke sana cckckckk

    ReplyDelete
  3. Perhatian kurang sih, idealnya juga masyarakat setempat turut menjaga kebersihannya, toh nanti bisa jadi potensi bisnis untuk daerah sekitar kan ya.

    ReplyDelete
  4. Saya belum pernah juga ke lentera merah, ternyata susah yah untuk bisa sampai ke lentera merah itu. Padahal kalo lihat foto-foto teman yang sudah sampai ke situ keren-keren banget.

    ReplyDelete
  5. sayang banget akses menuju lantera merah agak sulit dijangkau. padahal bagus banget. Apalagi sebelum nyampe ke lentera merah ada pantai. saya suka pantai yg menuju ke lentera merah, tapi sayang pantainya sepi, jadi agak takut kesana kalo gak rame rame

    ReplyDelete
  6. Perjuangan yg luar biasa mbak. Wkwk

    ReplyDelete