Agustus 2017 lalu, aku berangkat dari Bengkulu ke Enggano dengan kapal Ferry untuk melaksanakan tugas KKNku disana. Mahasiswa kedokteran yang tahun itu KKN semuanya ditugaskan ke Enggano, kecuali 3 orang yang dapat penempatan di pesantren. Enggano adalah pulau terluar di Indonesia yang terletak di Samudera Hindia, arah barat daya Kota Bengkulu. Jaraknya kurang lebih 156 km dan bisa ditempuh 12 jam perjalanan lewat laut.

Salah satu kecemasan kami saat datang ke pulau terluar Indonesia itu adalah masalah listrik.



Saat itu kami diberitahu kalau listrik belum masuk ke seluruh desa, jadi banyak diantara kami membawa powerbank, senter dan kipas yang bisa isi ulang baterai agar bisa tetap nyaman di malam hari. Kami yang selama ini dapat fasilitas melimpah saat kuliah kampus, harus bersiap untuk hidup kurang sumber daya di pulau.

Sesampainya di Apoho, kelompokku juga disambut dengan lampu mati. Kami diberitahu bahwa di desa kami, listrik hanya mati pada jam 12.00-17.00 serta 00.00-05.00 saja. Bisa dibilang beruntung karena di 3 desa lain listrik terbatas dan hanya hidup pada malam hari saja. Apoho dan Malakoni yang bisa dibilang pusat Enggano listriknya dialiri oleh listrik dari PLTD yang ada di Malakoni, sehingga listriknya stabil.

Teman-teman yang dapat desa Kahyapu, bilang kalau listrik hanya hidup dimalam hari saja, dan hanya 2-3 jam tergantung seberapa banyak mereka memakai listrik di sekre mereka. Mengisi baterai harus berebut, karena colokannya tidak cukup. Mereka juga akhirnya tidak lagi menyetrika pakaian karena terlalu ribet.

Aku jadi membayangkan bagaimana anak-anak disini belajar jika hanya mengandalkan cahaya matahari dan lilin saja. Juga untuk aktivitas lainnya pada malam hari, yang seharusnya bisa diisi dengan kegiatan yang bermanfaat tapi listrik tidak ada.

Sektor pariwisata juga tidak akan banyak berkembang jika listrik tidak menyala. Ya mungkin ada genset,di hotel-hotel tapi bahan bakar juga terbatas. Belum lagi jika badai, maka stok akan menipis.

Namun syukurlah, sekarang Enggano sudah terang.

Oktober 2017, PT PLN WS2JB (wilayah 2 Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu) sudah menambah mesin PLTD berkapasitas 2x500 Kw dan membangun gedung sentral PLTD sub rayon di Enggano. Selain memperbesar daya, sebaran masyarakat yang mendapat listrik juga jadi lebih banyak, yaitu sekitar 867 pelanggan.

sumber gambar : beritamerdekaonline.com


Perlu dipahami bahwa mengalirkan listrik ke Enggano bukanlah hal yang mudah karena kapal Ferry hanya beroperasi 2 kali seminggu dan kadangpun tak dapat melaut karena terhalang badai dan ombak yang tinggi. Saat aku dan rombongan akan berangkat saja, kami 2x batal berangkat karena cuaca buruk.

Selain itu, menurut berita yang kudapatkan dari internet, biaya pokok produksi khusus di enggano mencapai Rp 7.450 per kWh, tidak sebanding dengan tarif listrik yang hanya Rp 1.467 per kWh. Biaya pokok penyediaan tinggi namun oleh PLN hal tersebut tidak jadi masalah karena listrik yang baik akan membantu warga membangun dan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik.

Sip mantaplah. Yang pengen berwisata ke Enggano tidak perlu khawatir lagi sekarang, listrik sudah masuk dan tidak perlu repot membawa powerbank banyak-banyak. Pulau Enggano itu indah sekali, dan aku yakin keramahan penduduknya akan membuatmu betah disana :)

Baca juga tulisanku tentang pariwisata Pulau Enggano lainnya :
Primadona Enggano, Bak Blau
Surga Tersembunyi Enggano, Batu Lobang 

0 Comments