Skip to main content

Kenangan di Banjarsari | Mencari Kerang Cantik dan Sunset di Enggano

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com


Anak-anak Bengkulu, pasti tau dong ya kalau dulu tuh di Pantai Panjang gampang banget ngumpulin batu-batu cantik, cangkang kerang, pecahan terumbu karang dan kucingan gitu.. Dulu itu tapi, saat aku masih SD dan ketika pasir pantai panjang masih putih bersih.

Senang banget habis main air di pantai, ada aja yang dibawa pulang waktu dulu. Biasa anak kecil kan ya, paling banter bawa pulang seplastik aqua gelas doang hehe.

Tapi sekarang, boro-boro ketemu kucingan atau cangkng kerang, yang ada juga sampah plastik terdampar di pinggir pantai :'(

Pantai yang Cantik di Banjarsari

Pergi ke pantai yang ada di desa Banjarsari, membuatku kembali teringat dengan kenangan masa kecilku. Ketika datang ke pantai langsung disambut dengan pantai pasir putih dengan banyak perhiasan laut.

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Dinda dan Dessy langsung ngumpulin kucingan

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Ketemu cangkang kerang cantik yang ternyata ada isinya XD

Bahkan ada cangkang kerang yang besar, biasa kita liat di tv kerang yang isinya mutiara gitu. Hal ini dibenarkan oleh teman-temanku yang kkn-nya di desa ini. Kadang-kadang anak-anak desa datang ke sekre mereka membawakan kerang cantik yang baru naik ke pantai. Kadang juga mereka sambil berjalan-jalan (karena jarak dari sekre mereka ke pantai sangat-sangat dekat).


Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Ketemu teman-teman dari sekre Banjarsari dong!! Wita, Hara dan Clara!
Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Anak Apoho mencari kerang XD itu pada pegang plastik isi kucingan masing-masing
Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Kerang dan kucingan yang dikumpulkan hehehe

Pokoknya yang pengen ke Enggano, sayang banget kalau nggak jalan-jalan ke Banjarsari.

Mencari Sunset di Pantai Ujung Batu Pulau Enggano

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Tebak yang mana DPL-nya guys XD
Kalau sunrise bisa dilihat dihampir semua tepian pantai desa lain, sunset hanya bisa dilihat dari desa Banjarsari.

Baca juga : Menikmati Sunrise di Pelabuhan Malakoni

Hal ini baru kusadari saat ikut rombongan DPL (dosen pembina lapangan KKN) sekre sebelah. Waktu itu anak-anak dari KKN Enggano UNIB minta tolong ke Izo untuk bantu transportasi. DPLnya masih muda dan merupakan lulusan UNIB juga.

Jadi sore itu ketika Izo mengajak kami ikut menemani mengantar DPL tersebut ke Banjarsari, aku ikut-ikut aja hehe. Bosan di sekre terus. Akhirnya aku, Dessy, Dinda dan Izo ikut rombongan sekre sebelah ke Bak Blau dan Banjarsari. Sampai di Banjarsari, kami diajak ke Pantai Ujung Batu. Beberapa kilometer ke utara lagi XD

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Jalan menuju pantai

Padahal waktu itu sudah sekitar jam 4 mungkin ya. Kalau aku di Bengkulu ibaratnya dari Pantai Panjang diajak ke Pulau Baai lewat jalur pantai haha. Pasti kena marah mama sih XD Tapi karena 'mumpung di Enggano' akhirnya aku ikut juga dengan rombongan. Naik motor. Sebenarnya bisa juga jalan kaki tapi lumayan jauh, jadi yang cewek-cewek naik motor menembus hutan kecil-ada jalan setapak kecil yang sebenarnya agak ekstrim haha (offroad, tapi pake motor beat XD).


Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Motor beat dipinggir pantai antah berantah

Setelah rombongan yang pakai motor dan berjalan kaki bertemu kembali, kami masih harus menyusuri pantai lagi. Suasana pantai begitu tenang, sesekali terdengar suara binatang liar. Akhirnya sampailah kami ke satu pantai yang banyak bakaunya (bisa lanjut lagi perjalanan tapi harus pakai kapal mungkin ya memutari bakaunya). Disini beberapa orang langsung turun ke laut dengan pancingan, sementara yang lainnya menjelajah tepi pantai sambil berfoto-foto.

Foto-foto pas di Pantai Ujung ini lumayan sedikit, soalnya yang bawa kamera- Yayak, nggak ikutan. Selama ini foto-foto high-resolution yang kuposting semuanya dari kameranya Yayak :D Kamera hape-ku jelek sekali soalnya haha. Untungnya di pantai ini ada anak sekre Ka'ana yang berbaik hati membagikan foto yang diambilnya padaku.

(Disclaimer yak, foto-foto Enggano yang kuposting sebagian besar bukan aku yang ambil, tapi gabungan foto milik KKN Enggano 2017)

 
Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Memancing sore-sore
Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Narsis diantara bakau dan sunset


Ketika matahari mulai tenggelam, DPL dan senior yang memancing menyerah dan menghabiskan senja dengan berfoto bersama. Hehehehe, mungkin kurang mantap umpannya ya pak.

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Foto-foto dengan siluet begini wajib dong ya kalau ke Enggano

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Sunset~

Trip ke Batu Bolong, Di Mulai dari Banjarsari

Satu tempat yang mesti banget di kunjungi kalau pergi ke Enggano adalah Batu Bolong. Mulai dari website-website turis, kepala desa, sampai ke teman-teman sekre lain, bilangnya harus ke Batu Bolong. Sebenarnya apa sih Batu Bolong di pulau Komang?

Hold up!

Pertanyaan ini akan kujawab khusus dalam satu postingan panjang tentang Batu Bolong yak! Ini seperti highlight atau puncak trip eh KKN kami di Enggano. Pokoknya, dari keseluruhan postingan tentang Enggano, ceritanya sudah mendekati akhir, haha. Setelah chapter di Enggano selesai, aku akan mulai bercerita tentang tempat lain, mungkin ngomongin kuliner.. haha.

Stay tune! Bermula dari Banjarsari, petualangan kami ke Batu Bolong dimulai!

Berangkat!!!

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
Rombongan ke Batu Bolong, Apoho squad minus Tara

Desa Banjarsari, Enggano www.jejaja.com
MENUJU KOMANG, GO!

Comments

  1. Kalau dah baca tulisan Fira tentang Enggano bawaannya mupeng Fir, belum sempat main ke sana, semoga suatu saat bisa kesampaian

    ReplyDelete
  2. sore keemasannya sangat menggoda mbak.... pengin lah kapan-kapan maen juga disitu #jejakbiru

    ReplyDelete
  3. Sayang banget nggak bawa kamera yayak ke pantai ini hehehe.

    ReplyDelete
  4. Belum pernah ke enggano jadi mau liburan kesini deh

    ReplyDelete
  5. Gak sabar untuk mewujudkan keinginan bersilaturahmi ke pulau ini ya, Aamiiin semoga ada kesempatan

    ReplyDelete
  6. Masyallah.. Sunsetnya cantik banget.. Pengen juga kesana euy .

    ReplyDelete
  7. Bu dokter keceh fotonya dan sangat bikin orang penasaran. Sukses daaaah

    ReplyDelete
  8. Enggano ini menyimpan banyak cerita dan bikin penasaran mau ke sana . Kalian pas ke sana keliatan kompaknya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Primadona Enggano, Bak Blau dari Desa Meok

Lanjut lagi tentang pariwisata Enggano. Kali ini aku mau ceritain pengalamanku dan anak-anak sekre Apoho ke Bak Blau. Destinasi wisata ini primadonanya Enggano. Nggak ke Enggano deh kalau nggak main ke Bak Blau! Hehe.

Bak Blau berasal dari bahasa Enggano yang artinya 'mata air berwarna biru'. Ada di desa Meok, Enggano. Cukup dekat sih, dari sekre kami di Enggano, tapi kalau wisatawan yang ingin ke Bak Blau dari Kahiyapu (soalnya penginapan adanya di Kahiyapu) perjalanannya sekitar 30-45 menit tergantung kondisi jalan. Antara Apoho-Meok jalannya lumayan bagus, namun Kahiyapu-Kaana-Malakoni jalan lintasnya masih agak jelek dan suka berlumpur kalau hujan.

Cerita KKN-ku, Berkas dan Apoho

Throwback saat masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun lalu, anak-anak FK (fakultas kedokteran) angkatanku dapat penempatan di dua tempat, yaitu di Kota Bengkulu dan di Kabupaten Bengkulu Utara tepatnya di Kecamatan Enggano. Kecamatan satu ini lokasinya unik, karena bertempat di sebuah pulau yang kira-kira berjarak 156 km dari Kota Bengkulu.

Bungker Peninggalan Jepang di Desa Apoho, Enggano

"Lihat-lihatlah keindahan alam Enggano, ke Bak Blaw, ke pantai-pantainya.. Atau kalau mau liat bungker peninggalan Jepang, di Apoho juga ada," kata kepala desa kami saat kami bertemu di balai desa.

Bungker? Ku tidak menduga akan menemukan peninggalan Jepang di Enggano. Menurut salah satu artikel yang kubaca dikemudian hari (di Enggano kurang leluasa internetan hehe) bungker-bungker tersebut adalah peninggalan zaman Jepang sekitar tahun 1935 lalu. Bungker-bungker tersebut berfungsi sebagai pos-pos pengintaian untuk mengantisipasi serangan. Ada di dua desa, yaitu Malakoni dan Apoho. Di zaman tersebut juga sempat dibangun terowongan, landasan pesawat, gudang dan lainnya, namun ditinggalkan begitu saja karena Jepang semakin terdesak posisinya saat perang dunia ke dua.