Skip to main content

Batu Bolong Part 2 | Mencari Surga Tersembunyi di Enggano


Baca dulu part 1 nya disini

Kalau dihitung-hitung, ikannya bisa nyampe 50 ekor, dan ukurannya setelapak tangan gitu. Kalau di Bengkulu, makan ikan paling cuma 1 potong, bagian ekornya aja pula. Disini dikasih sebanyak itu.. Mana bener-bener fresh habis ditangkap kan ya haha.

Dari serenteng ikan tadi, ternyata yang mau diolah cuma setengahnya. Thank god haha. Selain bingung gimana ngabisinnya, bingung juga nih berapa lama ngebersihin ikannya.

Langsung deh, aku dan Dessy diajarin gimana cara ngebersihin ikannya. Aku lupa jenisnya apa, yang jelas aku dan Dessy diberi tahu untuk berhati-hati dengan bagian siripnya yang tajam dan ada racun. Jadi harus dipotong terlebih dahulu sebelum membersihkan sisiknya.

Oke sipp

Membersihkan ikan di alam..

Karena telenannya dipakai buat motong-motong cabe rawit, jadi kami membersihkan ikannya diatas batu-batu. Asik yah

Jadi tukang ikan di pinggir laut Enggano XD

Selagi aku dan Dessy membersihkan ikan, Yayak dan Dinda membuat pelengkapnya, yaitu kecap dengan irisan bawang dan cabe rawit. Uu~ mantap tuu. Izo membantu menyiapkan meja kecil dan api untuk memanggang ikanya.

Setelah ikannya selesai dibersihkan, langsung deh diletakkan diatas meja. Kami menunggu dengan sabar sambil beristirahat sejenak.



Ikannya matang dengan cepat. Dimakan hangat-hangat dengan nasi putih sambil dicocol sambal kecap. Uuh nikmatnya. Seorang bisa makan sampai 3 ikan, dan masih bersisa juga ikannya buat dibawa pulang kerumah XD

Nyam nyam

Selesai beristirahat dan mengisi tenaga, kami main air lagi. Tentu dong, main sampai sore XD Kali ini kami mencoba untuk naik keatas batu lobang dan melakukan photoshoot. 

Bikin foto pre-wed disini bagus juga yak XD

Kemudian kami lanjut jalan lagi ke sisi satunya lagi dari batu lobang. Bagus banget pemandangannya, apalagi sinar matahari sorenya menimpa air laut dan membuat warnanya jadi lebih cantik.

Disini juga terumbu karangnya cantik-cantik.. Izo dan Dinda lanjut jalan ke pantai untuk mencari kerang sementara aku dan Yayak mencoba berenang melewati "gerbang" batu lobang. Yaa kapan lagi hehe. Arus airnya memang datang dari bagian ini, jadi berenangnya jadi lebih mudah.

Aku dan Yayak yang cuma bisa berenang tapi nggak bisa mengapung membuat strategi 'aman' untuk mencapai seberang. Pertama-tama aku akan lewat dahulu dan menggapai sisi kiri gerbang yang ada bebatuannya. Lalu nanti aku akan menyambut Yayak untuk ikut berpegangan lalu kami berenang ke sisi satunya.

Agak deg-degan sih. Apalagi karena memakai kacamata renang, dasar lagunanya jadi kelihatan, warnanya lebih gelap daripada tempat yang dangkal dan airnya lebih dingin.


Siap menyebrang!

Alhamdulillah sukses wehehehehe. Lagian cuma berapa meter doang. Tapi karena ini di alam dan nggak ada yang bisa nolong kalau terjadi sesuatu, kami jadi lebih berhati-hati (masih pengen sekolah dan jadi dokter maaak haha)

Selebrasi.

Selagi aku dan Yayak balik ke sisi satunya lagi (ribet ya deskripsinya wkwk) ternyata Dessy bikin karya dari terumbu karang.

Bikinan Dessy nih
Bikin iri kannn XD Aku dan Yayak langsung ikutan cari patahan terumbu karang yang memang banyak di daerah itu.

Bikin nama siapa yaaa?

Ahaha XD
Setelah Dinda dan Izo kembali (dan membawa banyak kerang yang bikin kami iri XD) kami mulai foto-foto lagi bareng-bareng. Mumpung belum terlalu sore. Bikin foto dengan air, foto unit, foto grup, dan lain-lain.

Foto kayak gini wajib kali yah

Untuk foto berlima.. susah juga nih nggak ada yang fotoin. Akhirnya kami memutuskan untuk menaruh kameranya ditempat yang kering lalu memakai timer. Aku dan Izo bergantian memencet tombolnya, karena setelah menekan tombol hanya ada waktu 10 detik sementara lokasi kamera dan bagian tempat bergaya cukup jauh, jadi harus lompat terus berenang gitu XD



Foto begini harus yak, sayang banget udah jauh-jauh ke Batu Lobang nggak foto begini hehe


Hari mulai sore. Bahkan terlalu sore kayaknya karena matahari hampir tenggelam. Aku mengecek jam tanganku yang tidak kulepas dari pertama nyebur sampai sore. ASTAGAAAAA.. R.I.P jam tangan XD Pas nyebur pertama kali, jamnya tidak apa-apa, bahkan pas sholat Dzuhur aku masih bisa liat jam. Mungkin karena dibawa berenang, akhirnya jam tersebut wafat XD

Matahari mulai tenggelam..
Kami segera merapikan barang-barang dan berganti baju. Bawaan makin berat karena selain membawa baju basah kami juga membawa oleh-oleh XD ikan asap dan kerang. Pas berjalan kembali ke perahu, kami melihat perlahan-lahan air laut mulai naik, dan perahu sudah ditarik mendekat.

Perjalanan ke Batu Lobang selesai dong :D Perjalanan pulang lumayan hening dan agak menyeramkan XD Lampunya hanya dipakai untuk melihat karang, jadi diantara kami nggak terlihat apa-apa. Gerimis juga turun, untung hanya sebentar. Aku dan Yayak banyak bernyanyi selama di perahu, tapi ternyata pas turun Izo Dinda dan Dessy tidak mendengar apa-apa XD mungkin karena mereka ketiduran dan kami berdua duduk dibagian depan.

Karena air lautnya naik, jadi perjalanan pulang lebih mulus daripada berangkat. Tidak banyak tersangkut rumput laut. Di kegelapan, aku dan Yayak melihat banyak sekali sinar keperakan disekitar perahu, terutama di percikan air ketika perahu melaju. Ternyata itu plankton. Cantiknyaaaa~

Ketika perahu hampir sampai ke Banjarsari, bulan perlahan-lahan terlihat. Yaah, sayang sekali tadi mendung, soalnya bulannya cantik sekali untuk dipandangi.

Mission Accomplished!


Sampai di sekre teman-teman Banjarsari, kami mulai bertukar cerita tentang keseruan ke Batu Lobang. Seru karena kami sudah sama-sama merasakan petualangan ke Pantai Komang. Tiba-tiba ada yang bilang,

"Eh kalian banyak foto berdua sama berempat ya?"

"Memangnya kenapa?" tanyaku yang tidak tahu apa-apa.

"Kalau didaerah laut/pantai, jangan foto dengan jumlah genap," kata Nancy. "Kalau di hutan nggak boleh kalau jumlahnya ganjil, nah di laut/pantai, jumlahnya nggak boleh genap tau."

Mampus XD karena kami berlima, otomatis lebih gampang berdua dan berempat dong. Karena hal itu kami berlima jadi takut mengecek foto-foto yang diambil di batu bolong.

Setelah dijamu makan malam, kami kemudian pamit untuk pulang ke Apoho. Sudah sekitar jam 10 malam ketika kami sampai di sekre. Sebelum lampu mati jam 12, kami langsung buru-buru mandi dan membersihkan baju dan perlengkapan. Tara menyambut dengan ngantuk, mungkin karena bosan di sekre akhirnya dia ketiduran menunggu kami pulang.

"Tau nggak, pas kalian pergi, ada gempa lho," katanya. Mungkin pas ada gempa, kami sedang di kapal, jadi tidak merasa apa-apa. Tapi untungnya tidak apa-apa, gempa kecil.

Malam itu juga, Yayak memindahkan foto-foto ke laptop, agar lebih mudah disortir. Kami memperhatikan foto dengan jantung dag-dig-dug,, ya mana tau ada yang ikut nyempil di foto hueeeee T.T

Syukurnya tidak ada apa-apa, hanya wajah ceria kami main di Batu Lobang. Tapi..

Tapi laptop Yayak tiba-tiba aja gelap layarnya. Beberapa kali, cuma pas ngecek foto saja. Padahal selama KKN nggak terjadi apa-apa...

Hayo loooooooo XD

(foto-foto lain menyusul yaaak)

Comments

Popular posts from this blog

Primadona Enggano, Bak Blau dari Desa Meok

Lanjut lagi tentang pariwisata Enggano. Kali ini aku mau ceritain pengalamanku dan anak-anak sekre Apoho ke Bak Blau. Destinasi wisata ini primadonanya Enggano. Nggak ke Enggano deh kalau nggak main ke Bak Blau! Hehe.

Bak Blau berasal dari bahasa Enggano yang artinya 'mata air berwarna biru'. Ada di desa Meok, Enggano. Cukup dekat sih, dari sekre kami di Enggano, tapi kalau wisatawan yang ingin ke Bak Blau dari Kahiyapu (soalnya penginapan adanya di Kahiyapu) perjalanannya sekitar 30-45 menit tergantung kondisi jalan. Antara Apoho-Meok jalannya lumayan bagus, namun Kahiyapu-Kaana-Malakoni jalan lintasnya masih agak jelek dan suka berlumpur kalau hujan.

Cerita KKN-ku, Berkas dan Apoho

Throwback saat masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun lalu, anak-anak FK (fakultas kedokteran) angkatanku dapat penempatan di dua tempat, yaitu di Kota Bengkulu dan di Kabupaten Bengkulu Utara tepatnya di Kecamatan Enggano. Kecamatan satu ini lokasinya unik, karena bertempat di sebuah pulau yang kira-kira berjarak 156 km dari Kota Bengkulu.

Bungker Peninggalan Jepang di Desa Apoho, Enggano

"Lihat-lihatlah keindahan alam Enggano, ke Bak Blaw, ke pantai-pantainya.. Atau kalau mau liat bungker peninggalan Jepang, di Apoho juga ada," kata kepala desa kami saat kami bertemu di balai desa.

Bungker? Ku tidak menduga akan menemukan peninggalan Jepang di Enggano. Menurut salah satu artikel yang kubaca dikemudian hari (di Enggano kurang leluasa internetan hehe) bungker-bungker tersebut adalah peninggalan zaman Jepang sekitar tahun 1935 lalu. Bungker-bungker tersebut berfungsi sebagai pos-pos pengintaian untuk mengantisipasi serangan. Ada di dua desa, yaitu Malakoni dan Apoho. Di zaman tersebut juga sempat dibangun terowongan, landasan pesawat, gudang dan lainnya, namun ditinggalkan begitu saja karena Jepang semakin terdesak posisinya saat perang dunia ke dua.