Kenangan di Desa Kahiyapu, Enggano




















Halo!

Kali ini aku mau bahas soal desa Kahiyapu. Desa yang terletak di daerah paling selatan Pulau Enggano. Desa ini adalah desa pertama yang kukunjungi saat tiba di Enggano, karena desa ini adalah tempat berlabuh kapal ferry Pulau Tello.

Pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Enggano!
Baca disini dulu buat tau cerita keberangkatan kami ke Enggano

Oh iya, sebelumnya aku sempat bahas tentang pelabuhan yang ada di Malakoni kan ya. Nah, kalau di Malakoni itu buat kapal Pelni, di Kahiyapu buat kapal Ferry. Rombongan dari FKIK UNIB yang KKN periode itu semuanya bareng naik kapal ferry, karena kami mempertimbangkan barang bawaan kami yang sedemikian banyak. Biasalah anak KKN, semua dibawa XD termasuk motor dan mobil, karena di Pulau ini tidak ada angkutan umum yang khusus untuk transportasi saja (kecuali bus sekolah) jadi mau tidak mau harus bawa sendiri (atau pinjam dari bumdes/masyarakat).

Bawaan kami 6 kelompok (sekitar 40 orang lebih) sampai 1 truk lho. Sampai nyewa truk buat angkut, sekalian menghemat tenaga. Buat tarif transportasinya nanti aku bahas di postingan khusus yak. Ditambah beberapa kelompok yang membawa motor sendiri dan kelompokku yang membawa mobil. Yep, mobil. Tapi bukan jenis sedan gitu melainkan mobil off-road yang 4wheel. Inisiatif Izo sebagai ketua kelompok plus satu-satunya lelaki di kelompok kami :P

Selamat datang di Pulau Enggano!
Well, aku bersyukur juga sih kelompok kami bawa mobil, jadi lebih gampang kalau mau pergi bareng-bareng. Jalan di Enggano sepanjang Malakoni-Banjarsari memang mulus, tapi kalau dari Malakoni-Kahiyapu... masya Allah mantapnya wkwk. Jalannya masih tanah lumpur yang kalau hujan bisa membuat kendaraan susah berjalan. Semoga sekarang sudah selesai proyek jalannya, supaya penduduk sana dan turis semakin nyaman.

Balik lagi tentang Kahiyapu, selain punya pelabuhan kapal ferry, dari sini juga bisa pergi ke beberapa pulau disekitar Enggano yaitu Pulau Dua dan Pulau Merbau. Sayang aku belum sempat kesini wkwk. Cerita ke Pulau ini bisa kalian simak di blog Uni Tya yang kelompoknya bertugas di Desa Kahiyapu.

Baca disini :
Pulau Merbau 
Pulau Dua 
Di desa ini ada hotel Berlian, yang menurutku paling besar se Enggano. Di desa ini juga banyak warga yang menjual makanan hasil bumi untuk oleh-oleh, misalnya kepiting dan ikan asin. Karena ingin memesan dua oleh-oleh inilah, kelompok kami (dari desa Apoho) pergi ke Kahiyapu lagi saat libur (weekend di Enggano kami anggap libur proker, jadi bisa jalan-jalan hehe). Selain itu karena kangen dengan teman-teman di Kahiyapu juga sih.

Biasanya, anak-anak desa lain bertandang ke desa Apoho karena banyak pertandingan olahraga yang diselenggarakan (pas baru datang, ada kejuaraan voli memeriahkan hut PKK Desa Apoho, setelah itu langsung dilanjutkan kejuaraan voli dan sepak bola memeriahkan HUT Kemerderaan RI). Namun anak-anak dari Desa Kahiyapu paling jarang datang, selain karena jaraknya yang jauh juga karena kendaraannya tidak memadai. Mana bensin juga mesti hemat kan (sempat langka bensin pas minggu ke-2 sampai minggu 3 karena kapal yang mengangkut bahan bakar tidak masuk-masuk).

Akhirnya kami main ke sekre Kahiyapu, melihat sekre mereka yang bisa dibilang paling miris diantara sekre desa lain karena tidak memiliki WC didalam dan pintu depan yang sulit tertutup.Nggak ada WC, dimana dong mandinya? Mereka akhirnya menumpang di rumah warga didepan sekre.

Maya, anak Kahiyapu XD
Tapi jangan salah, diantara semua desa kupikir yang paling kompak timnya dan yang paling akrab dengan penduduk desa adalah teman-teman dari desa Kahiyapu. Salut deh. Terpesona juga dengar cerita-cerita dari mereka, yang sering diberi ikan gratis dari nelayan yang baru pulang melaut. Di Apoho mana ada yang ngasih ikan XD rata-rata penduduknya bukan nelayan tapi pegawai kantor, guru, TNI dan Polisi. Ya pernahnya dikasih hasil kebun sih.


Uni Tya dan remaja desa membakar ikan didepan sekre
Yah disetiap cerita pasti ada plus minusnya. Itu yang membuat KKN kami berkesan. Cerita antar sekre pun menjadi seru karena masing-masing sekre punya ceritanya masing-masing.

Baca cerita KKN di Desa Kahiyapu dari blog Uni Tya (link)

Kelompok Apoho dan Kahiyapu didepan sekre Kahiyapu
Lastly, kenanganku di Kahiyapu ini adalah desa terakhir yang kulihat sebelum pulang ke Bengkulu. Kami pulang naik ferry lagi, masih karena barang bawaan yang bejibun. Kami sampai di Kahiyapu sekitar jam 3 sore, sedangkan kapal berangkat sesudah maghrib.


Kapal Pulau Tello
Nah itu tadi kenanganku di desa Kahiyapu, Enggano. Oh iya, di belakang kantor pelabuhan ada kedai makan kecil yang menjual bakso, soto, nasi dan gorengan. Lumayan buat ngisi perut sebelum naik kapal lagi.

Comments

Populer