Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2018

Kenangan di Desa Kahyapu | Desa yang Ramah dan Indah

Kali ini aku mau bahas soal desa Kahiyapu. Desa yang terletak di daerah paling selatan Pulau Enggano. Desa ini adalah desa pertama yang kukunjungi saat tiba di Enggano, karena desa ini adalah tempat berlabuh kapal ferry Pulau Tello.


Baca disini dulu buat tau cerita keberangkatan kami ke Enggano

Oh iya, sebelumnya aku sempat bahas tentang pelabuhan yang ada di Malakoni kan ya. Nah, kalau di Malakoni itu buat kapal Pelni, di Kahiyapu buat kapal Ferry. Rombongan dari FKIK UNIB yang KKN periode itu semuanya bareng naik kapal ferry, karena kami mempertimbangkan barang bawaan kami yang sedemikian banyak. Biasalah anak KKN, semua dibawa XD termasuk motor dan mobil, karena di Pulau ini tidak ada angkutan umum yang khusus untuk transportasi saja (kecuali bus sekolah) jadi mau tidak mau harus bawa sendiri (atau pinjam dari bumdes/masyarakat).

Bawaan kami 6 kelompok (sekitar 40 orang lebih) sampai 1 truk lho. Sampai nyewa truk buat angkut, sekalian menghemat tenaga. Buat tarif transportasinya …

Bungker Peninggalan Jepang di Desa Apoho, Enggano

"Lihat-lihatlah keindahan alam Enggano, ke Bak Blaw, ke pantai-pantainya.. Atau kalau mau liat bungker peninggalan Jepang, di Apoho juga ada," kata kepala desa kami saat kami bertemu di balai desa.

Bungker? Ku tidak menduga akan menemukan peninggalan Jepang di Enggano. Menurut salah satu artikel yang kubaca dikemudian hari (di Enggano kurang leluasa internetan hehe) bungker-bungker tersebut adalah peninggalan zaman Jepang sekitar tahun 1935 lalu. Bungker-bungker tersebut berfungsi sebagai pos-pos pengintaian untuk mengantisipasi serangan. Ada di dua desa, yaitu Malakoni dan Apoho. Di zaman tersebut juga sempat dibangun terowongan, landasan pesawat, gudang dan lainnya, namun ditinggalkan begitu saja karena Jepang semakin terdesak posisinya saat perang dunia ke dua.

Mengenal Bahasa Enggano

Saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun lalu, aku iseng bertanya pada warga lokal, apakah disini masih menggunakan bahasa Enggano? Bahasa Enggano adalah bahasa yang digunakan suku Enggano yang termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Soalnya saat sebelum berangkat, aku sempat lihat berita bahwa bahasa ini termasuk yang terancam punah karena penuturnya yang makin sedikit. Apalagi ketika aku bercakap dengan kepala desa dan guru-guru (bahkan para murid) di SDN 51 Apoho, mereka menggunakan bahasa Indonesia yang lancar, memakai kata "saya" daripada "ambo" untuk merujuk diri sendiri.


Jawabannya, ya. Masih memakai bahasa Enggano jika bercakap dengan keluarga dan tetangga. Tapi kepada pendatang, mereka bisa membalas dengan bahasa Indonesia yang fasih. Aku sedikit tidak percaya, namun kemudian saat rapat ibu-ibu desa Apoho, mereka mulai menggunakan bahasa Enggano XD dan membuatku bengong.

Ini ada beberapa kosakata dari Bahasa Enggano yang sempat kutanyakan pada penduduk lokal…

Pelabuhan Malakoni, Enggano

Kali ini aku mau kasih catatan kecil tentang Pelabuhan Malakoni. Seperti yang aku sudah pernah ceritakan sebelumnya, transportasi laut menuju Enggano ini ada dua. Satu kapal ferry Pulau Tello dan satu kapal perintis Sabuk Nusantara 52. Kapal ferry Pulau Tello merapat di Enggano melalui Pelabuhan di Kahiyapu sementara kapal perintis merapat di Pelabuhan Malakoni.

Nah, saat kami berangkat (dan pulang) KKN tahun lalu, kami ikut kapal ferry Pulau Tello. Alasan dipilihnya kapal ferry ini yaitu bisa mengangkut truk yang kami sewa (bawaan kkn 6 sekre coy, haha) juga karena jadwalnya lebih banyak daripada kapal Perintis yang hanya seminggu sekali. Kalau tidak salah jadwal kapal perintis ini, berangkat Rabu dan sampai pada hari Kamis (perjalanan sekitar 10-12 jam), sedangkan kapal ferry bisa hari selasa atau jumat berangkatnya. tapi keberangkatannya tergantung cuaca banget karena kapalnya lebih kecil daripada kapal ferry.

Primadona Enggano, Bak Blau dari Desa Meok

Lanjut lagi tentang pariwisata Enggano. Kali ini aku mau ceritain pengalamanku dan anak-anak sekre Apoho ke Bak Blau. Destinasi wisata ini primadonanya Enggano. Nggak ke Enggano deh kalau nggak main ke Bak Blau! Hehe.

Bak Blau berasal dari bahasa Enggano yang artinya 'mata air berwarna biru'. Ada di desa Meok, Enggano. Cukup dekat sih, dari sekre kami di Enggano, tapi kalau wisatawan yang ingin ke Bak Blau dari Kahiyapu (soalnya penginapan adanya di Kahiyapu) perjalanannya sekitar 30-45 menit tergantung kondisi jalan. Antara Apoho-Meok jalannya lumayan bagus, namun Kahiyapu-Kaana-Malakoni jalan lintasnya masih agak jelek dan suka berlumpur kalau hujan.