Skip to main content

Cerita KKN-ku, Berkas dan Apoho

KKN Enggano www.jejaja.com
Pelabuhan Kahiyapu

Throwback saat masa KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun lalu, anak-anak FK (fakultas kedokteran) angkatanku dapat penempatan di dua tempat, yaitu di Kota Bengkulu dan di Kabupaten Bengkulu Utara tepatnya di Kecamatan Enggano. Kecamatan satu ini lokasinya unik, karena bertempat di sebuah pulau yang kira-kira berjarak 156 km dari Kota Bengkulu.



Kenapa kami bisa ditempatkan di dua tempat? Well, sebenarnya penjelasan lengkapnya ada di pihak kampus dan P3KKN, yang jelas jadwal ujian anak-anak FK sedikit rumit dan sulit disesuaikan dengan jadwal KKN semestinya. Lagipula, ditahun itu lebaran jatuh ditengah masa KKN, sehingga ada banyak lagi hal yang mesti dipertimbangkan.

KKN BERKAS


KKN Enggano www.jejaja.com
Kegiatan posyandu Kelurahan Berkas. Aku yang fotoin jadi ga di frame.
Penempatan pertama, kami disebar di beberapa kelurahan di Kecamatan Teluk Segara. Aku dan kelompok-ku dapat penempatan di Kelurahan Berkas. Lokasinya dipinggir pantai. Kalau sekarang, kelurahan ini terkenal karena memiliki tempat wisata 'Taman Pantai Berkas' (waktu kami KKN, kepala RW-nya bilang "lagi dibangun roller coaster". Daerah ini juga terkenal karena banyaknya restoran dengan view cantik dan hidangan seafood-nya yang enak. Sebut saja Rumah Makan Marola, Baracas, Aloha..

FYI, sekretariat kami ada dibelakang Baracas lho.

KKN Enggano www.jejaja.com
Pantai didepan sekre. Tinggal jalan kaki juga nyampe
Setelah satu bulan melaksanakan program kerja (proker) di Kelurahan Berkas, kami berpamitan dengan perangkat kelurahan. Juga berpamitan dengan rekan satu KKN, karena tidak semua mahasiswa yang KKN di Berkas berangkat di Enggano. Kok bisa? Sebentar aku jelaskan dulu, jadi ada dua kategori mahasiswa FK yang ikut KKN khusus di Kota, satunya adalah kakak tingkat yang sudah melaksanakan KKN selama 1 bulan di Bengkulu Utara (aku lupa nama kecamatannya) yang diharuskan mengikuti KKN lanjutan selama sebulan (durasi KKN normalnya 2 bulan). Satunya lagi adalah angkatanku (dan kakak tingkat yang baru bisa mengikuti KKN di periode ini), yang belum pernah KKN namun karena terhalang jadwal jadi harus diikutkan KKN khusus di Kota, baru kemudian diberangkatkan ke Enggano.

Ribet yak? Tapi tenang saja, tahun ini adik tingkat kami menjalani KKN normal, dibaur kelompoknya dengan anak-anak se-universitas dan disebar di kelompok-kelompok berbeda. Seperti yang kukatakan sebelumnya, penjelasan lengkap dan maksud dibelakang keberangkatan kami ke Enggano ada di pihak kampus. Jadi sudahlah ya, diikuti saja.

KKN di Enggano? Siapa Takut!

Sebenarnya, aku tidak begitu merasa dirugikan dengan penempatan KKN ini. Karena dalam hati, aku ingin mencoba sesuatu yang baru, bertualang ditempat yang belum pernah kujelajahi sebelumnya. Aku kepengen main ke Pulau Enggano, tapi tidak pernah kesampaian karena keluargaku bukan tipe keluarga yang suka nge-trip ke daerah lain. Nah, kemudian datang kesempatan ini. Bisa menjelajah bersama teman seangkatan pula, kan asik!

Saat pembekalan, tim P3KKN menjelaskan Kecamatan Enggano. Penjelasannya menurutku tidak begitu lengkap (tapi ketika melihat Enggano dengan mata kepala sendiri, barulah sadar kalau memang informasi di daerah ini masih terbatas, fasilitas terbatas, sehingga ketika dipaparkan memang tidak terlalu lengkap). Ada 6 desa di Kecamatan Enggano, Kahiyapu, Ka'ana, Malakoni, Apoho, Meok dan Banjarsari. Kalau digambar petanya, tim P3KKN hanya menggambarkan pulau kecil dengan satu garis jalan. Iya cuma SEGARIS. Desanya berjajar dari Kahiyapu sampai Banjarsari, dapat ditempuh lewat satu-satunya jalan yang kalau mulus seperti jalan tol, hehe (Sayang jalannya tidak mulus. Karena uang perbaikannya di korupsi).

Selengkapnya mengenai Enggano bisa dibaca disini

KKN Enggano www.jejaja.com
Peta Enggano
Kalau lihat peta, kelihatannya luas ya? Tapi daerah yang ditempati manusia masih sedikit sekali, hanya bagian timur yang menghadap ke Provinsi Bengkulu. Bagian tengah dan barat masih belum terjamah pembangunan.

Transportasi kesana ada dua pilihan, laut atau udara. Dulu sudah ada pesawat Susi Air yang beroperasi (bandaranya di perbatasan Meok-Banjarsari), kalau sekarang ada pesawat Wings Air yang punya kapasitas lebih besar. Untuk transportasi laut, ada dua pilihan, kapal perintis (dari Pelabuhan Pulau Baai menuju Pelabuhan Malakoni) atau kapal Ferry (dari Pelabuhan Pulau Baai menuju Pelabuhan Kahiyapu). Perjalanan laut membutuhkan waktu 12 jam sementara perjalanan udara hanya 1 jam. Tentu saja banyak yang kepengen naik pesawat, namun kami harus memikirkan cara mengangkut motor (untuk memudahkan transportasi selama di Enggano karena disana tidak ada angkutan umum) dan juga barang-barang KKN. Tahu sendiri lah anak FK agak rempong hehe.

Kemudian pembagian kelompok. Karena desanya hanya ada 6, maka kelompok 7 dan 8 KKN Kota dipecah dan dimasukkan ke 6 kelompok pertama. Kelompokku yang awalnya 4 orang (Aku, Hafizo, Tara dan Dessy) kemudian ditambah 2 orang lagi yaitu Aulia (Yayak) dan Dinda. Berenam, 5 perempuan dan satu laki-laki (yang otomatis jadi kor-des). Kelompok kami kelompok 4, jadi mendapat desa keempat yaitu Apoho.

DESA APOHO.


Desa utama Kecamatan Enggano. Di desa kami, meskipun jumlah KK-nya paling kecil, namun merupakan lokasi sentral dimana terdapat Puskesmas, Kantor Kecamatan, SDN 01, KORAMIL (Komando Rayon Militer), KAPOLSEK, dan BANK. Selain itu, keuntungan anak-anak KKN di desa ini adalah tempat tinggalnya. Kalau desa lain menempati rumah warga/rumah adat, kami dipinjamkan satu unit rumah di KORAMIL. Dan rumahnya benar-benar baru dibangun, semua lampu menyala, air bersih, ada 2 kamar mandi dan 3 unit kamar, wah benar-benar sekretariat impian. Beruntungnya lagi, unit ini dipinjamkan gratis (listrik saja yang bayar sendiri), berbeda dengan sekretariat kami di Berkas.

Tambahan lain, di desa Apoho listrik sudah lumayan lancar meskipun tidak 24 jam. Listrik hidup dari jam 5 pagi-12 siang. Sorenya jam 5-12 malam lampu kembali hidup. Selama 3 minggu di Enggano, hanya sekali kami merasakan mati lampu seharian. Selebihnya lancar lah. Bandingkan dengan teman-teman di Desa lain yang listriknya hanya hidup beberapa jam. Selain itu sinyal telepon juga ada, internet lumayan lancar di pagi hari dan bisa menumpang wifi di PLN/Puskesmas. Di desa lain? Boro-boro liat instagram, menelpon saja putus-putus hehe.

Keberangkatan ke Enggano


Fast-forward ke waktu keberangkatan. FYI, kami sempat gagal berangkat karena cuaca buruk. Yang seharusnya berangkat hari Sabtu molor jadi Selasa (jadi harus merelakan bahan makanan yang terlanjur masuk ke truk). Akhirnya kami baru berangkat hari Selasa, full-team (kecuali Fitril yang sedang sakit) karena yang membeli tiket pesawat mengurungkan penerbangannya dan akhirnya memilih ikut berangkat dengan kapal ferry.

KKN Enggano www.jejaja.com
Wajah cerah sebelum berangkat
Selama 12 jam kami bertahan dalam kapal yang oleng kanan-kiri diterpa badai. Kepalaku pusing dan berputar, malam seperti tiada akhir. Aku tidur dengan posisi setengah duduk, karena aku hanya dapat 2 tempat duduk. Beberapa teman lain ada yang bisa tidur di kursi dengan posisi melintang (dapat 4 kursi), ada yang tidur sambil duduk, ada juga yang tidur di lantai. Sebetulnya, ada kelas VIP di kapal ini, dimana penumpang dapat tempat tidur di ruangan ber-AC. Tapi harganya lebih mahal dan terbatas, jadi aku mencoba untuk tidak merepotkan dan bertahan di dek.

KKN Enggano www.jejaja.com
I survived!
Karena pengaruh antimo dan snack dan keinginan kuat untuk tidur, aku bisa melewati malam tanpa mabuk laut. Beberapa temanku ada yang muntah berkali-kali, sampai wajahnya pucat sekali saat sampai di pelabuhan.

TOUCHDOWN!


KKN Enggano www.jejaja.com
Pelabuhan Kahiyapu

KKN Enggano www.jejaja.com
Ucapan selamat datang :D

KKN Enggano www.jejaja.com
Menginjakkan kaki di Pulau Enggano

Sesampainya di darat, kami berbaris untuk mendengarkan pengantar dari pembina KKN kami kemudian langsung naik transportasi masing-masing ke desa. Oh iya, kelompok kami membawa mobil ke Enggano (mengingat kelompok kami laki-lakinya hanya satu dan yang lain tidak terlalu pandai membonceng), jadi setelah sampai kami langsung pergi dengan mobil ke Apoho. Teman-teman dari desa yang dekat ada yang menunggu angkutan desa (pick-up) ada juga yang langsung naik motor. Barang-barang diantarkan satu persatu secara berurutan dari desa Kahiyapu-Ka'ana-Malakoni-Apoho-Meok-Banjar.

KKN Enggano www.jejaja.com
Peta Desa Apoho

KKN Enggano www.jejaja.com
Sekretariat KKN FK Desa Apoho

Hei, sampai disini dulu ya ceritaku. Masih panjang banget ceritanya, takutnya kalian bosan wehehe. Selanjutnya akan kuceritakan tentang suasana desa Enggano saat kami KKN disana. Stay tune!

KKN Enggano www.jejaja.com
Bye!

Comments

  1. Mbak ga bosan kok Fir, mbak soalnya belum pernah ke Enggano, jadi penasaran tingkat tinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ehehe, cobalah mbak liburan kesana, asyik banget :P

      Delete
  2. Seru bgt ya mbk crya KKN nya. Pasti bnyak kesan mendalam selama di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya hehe. Masih ingat jelas nih padahal udah setahun nggak kesana

      Delete
  3. Pemsaran bgt sama Enggano . Moga suatu saat nnti bisa ke Enggano. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. ikut Indonesia Mengajar atau acara-acara 1000 guru gitu.. Mereka pernah bikin trip ke Enggano juga

      Delete
  4. Seru sekali kkn kalian..luar biasa pasti pengalamannya. Itu bandara di bagian mana ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. bandara ada di perbatasan desa Meok dan Banjarsari, kecil lintasannya tapi lumayan buat take off pesawat mbak.

      Delete
  5. Keren KKN di Enggano, aku belum pernah ke Enggano. hawa penasarannya masih membumbung nih. hihi

    ReplyDelete
  6. Waw perjalanan ke Enggano sangat menantang ya. KKN di Enggano pasti sangat berkesan. Bagus banget ada program KKN ke sana.

    ReplyDelete
  7. Belum pernah ke Enggano & pengeeeeen banget ke sana Dek Fir. Ayok lanjutin ceritanya 😆

    ReplyDelete
  8. waah.. aku dr dlu pgn bgt ke Enggano p blom dpt izin juga mpe skrg... hehe.. seru kali ya Mbk ke sana... :D

    ReplyDelete
  9. seru banget bisa kkn di sana, ditunggu cerita selanjutnya ya!

    ReplyDelete
  10. Keinginan kesana selalu ada, insyaallah semoga ada kesempatan, pengen coba menjelajah beberapa destinasi yang dek fira tulis euy

    ReplyDelete
  11. asiik ya.....jadi pengen ke sana.
    thank you for sharing

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Primadona Enggano, Bak Blau dari Desa Meok

Lanjut lagi tentang pariwisata Enggano. Kali ini aku mau ceritain pengalamanku dan anak-anak sekre Apoho ke Bak Blau. Destinasi wisata ini primadonanya Enggano. Nggak ke Enggano deh kalau nggak main ke Bak Blau! Hehe.

Bak Blau berasal dari bahasa Enggano yang artinya 'mata air berwarna biru'. Ada di desa Meok, Enggano. Cukup dekat sih, dari sekre kami di Enggano, tapi kalau wisatawan yang ingin ke Bak Blau dari Kahiyapu (soalnya penginapan adanya di Kahiyapu) perjalanannya sekitar 30-45 menit tergantung kondisi jalan. Antara Apoho-Meok jalannya lumayan bagus, namun Kahiyapu-Kaana-Malakoni jalan lintasnya masih agak jelek dan suka berlumpur kalau hujan.

Bungker Peninggalan Jepang di Desa Apoho, Enggano

"Lihat-lihatlah keindahan alam Enggano, ke Bak Blaw, ke pantai-pantainya.. Atau kalau mau liat bungker peninggalan Jepang, di Apoho juga ada," kata kepala desa kami saat kami bertemu di balai desa.

Bungker? Ku tidak menduga akan menemukan peninggalan Jepang di Enggano. Menurut salah satu artikel yang kubaca dikemudian hari (di Enggano kurang leluasa internetan hehe) bungker-bungker tersebut adalah peninggalan zaman Jepang sekitar tahun 1935 lalu. Bungker-bungker tersebut berfungsi sebagai pos-pos pengintaian untuk mengantisipasi serangan. Ada di dua desa, yaitu Malakoni dan Apoho. Di zaman tersebut juga sempat dibangun terowongan, landasan pesawat, gudang dan lainnya, namun ditinggalkan begitu saja karena Jepang semakin terdesak posisinya saat perang dunia ke dua.